The Golden Age of Classical Myths – Part. 3

Mars (Ares)
Mars, dewa perang yang haus darah adalah putra Jupiter dengan Juno. Sosoknya tampak gagah, jantan, dan berwibawa di balik balutan busana perang yang gemerlapan. Namun sayangnya hanya hal itulah yang dapat dibanggakan dari dirinya.

Tak ada satupun kisah yang menyanjung kehebatannya, karena sebagai dewa perang kegemarannya hanyalah menyaksikan kekerasan, pertumpahan darah, korban yang berjatuhan, dan peradaban yang dihancurkan. Bila umumnya dewa-dewi menghendaki kebahagiaan bagi umat manusia, sebaliknya yang dia kehendaki hanyalah penderitaan dan kehancuran.

Bahkan orang tuanya pun tidak menyukainya. Pernah dalam suatu kesempatan Juno, menghadap Jupiter, memohon agar Mars diseret dari medan perang dalam keadaan memalukan. Jupiter setuju. Dia memerintahkan Minerva melakukan hal tersebut. Hal itu terjadi pada saat Perang Troya berlangsung. Juno yang memihak Yunani mendapat kesulitan dari Mars yang membantai pasukan Yunani hanya karena tampaknya pasukan Yunani berada di pihak yang akan kalah.

Mars membenci Pax dan Ceres karena dewi-dewi tersebut mencintai perdamaian. Namun begitu dia harus berhati-hati terhadap mereka karena Minerva yang juga mencintai perdamaian selalu membela mereka. Meski Mars adalah dewa perang, dia selalu berada di pihak yang kalah bila harus berhadapan dengan Minerva yang tak hanya mengandalkan kekuatan fisik belaka namun juga taktik dan akal sehat terlebih dilandasi tekad yang kuat untuk membela perdamaian.

Meski begitu toh ada juga yang menjadi sahabat dan pengagumnya, yaitu Discordia, dewi kebencian yang senang dengan perpecahan, dan Venus, dewi cinta dan kecantikan yang terpesona oleh sosoknya yang gagah.

Perkawinan Mars dan Venus melahirkan anak-anak yang seperti selalu dikatakan bahwa batas antara cinta dan kebencian amatlah tipis, yaitu Cupid, dewa asmara; Anteros, dewa nafsu birahi; Hymen, dewa perjodohan; Hermione, pembawa harmoni; Phobos dan Deimos, ketakutan dan teror; serta Bellona, dewi perang yang menjadi kusir kereta ayahnya.

Konon bangsa Romawi yang suka berperang adalah keturunan Mars dari seorang vestalia (gadis-gadis pelayan di kuil Dewi Vesta), yaitu Rhea Sylvia, yang kemudian melahirkan Remus dan Romulus yang mendirikan kota Roma.

Venus (Aphrodite)
Venus adalah dewi cinta dan kecantikan, putri Jupiter dengan Dione, dewi kelembaban, putri Epimetheus.

Dia dilahirkan berupa buih di tengah lautan. Buih tersebut makin lama makin membesar dan tiba-tiba dari dalamnya muncullah Venus dalam wujud wanita muda jelita. Ikan-ikan dari dalam lautan berloncatan riang menyambut kelahiran dewi baru tersebut, burung-burung laut girang sambil mengepak-ngepakkan sayap mengelilinginya, peri-peri laut membawakannya kulit kerang yang terbesar dan terbagus untuk dinaikinya, Favonius, Angin Barat yang berhembus sepoi-sepoi, membawa perahu kulit kerang tersebut ke pantai pulau terdekat, Cyprus. Flora, kekasih Favonius yang merupakan dewi bunga menghujaninya dengan berbagai macam bunga yang semerbak.

Segera sesampainya di pantai, peri-peri di hutan Cyprus bertindak sebagai nona-nona rumah mendandani dewi baru tersebut. Dewi-dewi musim turun dari Olympus membawakannya gaun yang indah serta berbagai macam perhiasan yang menambah pesona sang dewi baru tersebut.

Jupiter kemudian mengirimkan awan untuk mengangkat putrinya tersebut ke balai para dewa di Olympus. Semua yang hadir terpikat oleh kejelitaannya dan berlomba-lomba menarik perhatiannya mencoba menjalin hubungan yang lebih akrab. Kemudian Jupiter memberinya wewenang untuk mengurus masalah kecantikan, keindahan, dan berbagai macam emosi manusia, khususnya yang berhubungan dengan asmara. Jadilah Venus dewi cinta dan kecantikan.

Dalam menjalankan tugasnya Venus selalu dibantu oleh putranya, Cupid yang bersayap dan membawa panah bermata berlian yang mampu menembus hati yang sekeras baja. Cupid dilukiskan sebagai anak kecil yang montok dan menggemaskan. Konon Venus pernah mengeluh kepada Justitia, dewi keadilan, karena Cupid tidak pernah tumbuh menjadi dewasa. Justitia kemudian memberikan jawaban bahwa Cupid akan tumbuh menjadi dewasa bila beserta saudaranya Anteros, dewa nafsu birahi. Kemudian Venus melahirkan Anteros dan Cupid pun tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda yang cakap.

Venus memiliki ikat pinggang bernama cestus yang selalu memberinya ilham dalam percintaan dan membuat siapa saja yang terkena pengaruh kekuatannya sulit terhindar dari masalah asmara. Meski demikian ada tiga orang dewi yang tak terpengaruh oleh kekuatan gaib ikat pinggangnya dan tetap perawan, yaitu Minerva, yang menolak mencintai pria manapun karena hanya mencintai kemanusiaan; Diana, dewi malam purnama dan perburuan yang angkuh; serta Vesta, dewi perapian dan kehangatan keluarga yang keinginannya sederhana, yaitu menjaga dan memelihara kehangatan hati dalam keluarga.

Meski selalu menyombongkan diri dalam masalah asmara, Venus tak luput pernah jatuh cinta serta mengalami kekecewaan, bahkan dengan makhluk fana. Pria-pria yang pernah dicintainya antara lain Anchises, ayah Aeneas yang menjadi leluhur bangsa Romawi, serta Adonis yang tampan rupawan. Konon kematian Adonis akibat diterkam hutan membuat Venus begitu berduka sehinga dia berjalan jauh meninggalkan Olympus untuk menguburkan kekasihnya itu tanpa mengenakan alas kaki, sehingga kakinya luka tertusuk oleh bebatuan tajam. Darah yang mengalir dari lukanya mewarnai mawar yang semula seputih salju menjadi merah, lambang hati yang membara oleh cinta, sedangkan darah yang menetes dari tubuh Adonis berubah menjadi bunga anemone.

Venus dilukiskan sebagai wanita jelita berambut keemasan dan bermata violet yang selalu bercermin mengagumi kecantikannya sendiri. Bunga mawar dan pohon cypress menjadi persembahan bagi Venus. Sedangkan burung merpati yang selalu berpasangan dan angsa putih yang anggun menjadi hewan kesayangannya.

Vulcan (Hephaestus)
Vulcan adalah dewa api dan pandai logam, putra sulung Jupiter dengan Juno. Dia dilahirkan sebagai bayi yang cacat kakinya, sehingga Juno yang merasa malu melahirkannya kemudian melemparkannya dari puncak Olympus ke dalam lautan. Kalau saja bukan seorang dewa, bayi tersebut pastilah sudah binasa. Bayi tersebut terus tenggelam sampai ke dasar samudra sampai ditemukan oleh dua orang dewi laut, yaitu Thetis dan Eurynome, yang kemudian merawatnya.

Vulcan tumbuh dewasa dan akan menjadi seorang dewa laut pula bila tidak tanpa sengaja suatu hari dia melihat gunung berapi meletus. Lavanya melelehkan semua benda yang dilaluinya. Kagum oleh fenomena alam yang demikian hebat membuat Vulcan berpikir bahwa api dapat dimanfaatkan untuk mengolah benda-benda keras seperti logam dan membentuknya sesuai keinginan. Maka lahirlah penempaan logam.

Untuk menyatakan rasa terima kasihnya kepada Thetis dan Eurynome, Vulcan membuat seuntai kalung emas bertatahkan permata bagi mereka. Dalam suatu kesempatan Juno berjumpa dengan Thetis. Terkagum-kagum oleh kalung yang dikenakan Thetis, Juno menanyakan siapakah yang begitu ahli merancang kalung yang sedemikian indah kepada Thetis. Thetis menjawab bahwa Vulcan, putra Juno sendiri yang telah membuatnya. Sejenak Juno merasa ragu namun kemudian dia berkata kepada Thetis agar menyampaikan perintahnya kepada Vulcan untuk membuatkan singgasana emas yang indah baginya.

Vulcan yang mendengar dari Thetis bahwa ibunya memerintahkannya membuat singgasana emas menyanggupi hal tersebut. Tangan-tangannya yang terampil segera bekerja dan setelah beberapa saat singgasana emas yang penuh ukir-ukiran indah dan dihiasi pula dengan permata itu pun jadilah. Namun dia belum selesai bekerja. Rupanya dia menyiapkan suatu jebakan bagi Juno. Ia menciptakan rantai-rantai dari sejenis logam ajaib yang tak terlihat mata kemudian memasangnya pada singgasana tersebut. Setelah selesai barulah singgasana tersebut dikirim ke Olympus untuk dipersembahkan pada Juno.

Betapa girangnya Juno melihat singgasana emas yang begitu indah dipersembahkan baginya. Segera dia duduk di atas singgasana tersebut. Tetapi hanya sejenak kemudian senyumnya berubah menjadi kegusaran saat dia merasa ada rantai tak terlihat yang membelenggunya di atas singgasana tersebut. Para dewa-dewi mencoba melepaskan rantai tersebut namun tak berhasil.

Akhirnya Jupiter memerintahkan Mercury untuk membujuk Vulcan ke Olympus dan membebaskan ibunya. Namun Mercury gagal. Kemudian Mars diutus untuk menyeret Vulcan ke Olympus dan membebaskan Juno. Namun juga gagal. Akhirnya Bacchus, dewa anggur dan keriangan, disertai para pengikutnya yang riang gembira, berangkat ke bengkel kerja Vulcan sambil membawa bergentong-gentong anggur. Bacchus menawarkan secawan anggur pada Vulcan yang segera mereguknya dengan nikmat. Kemudian Bacchus terus mengisi cawan Vulcan sehingga akhirnya Vulcan menjadi mabuk. Pada saat itulah Bacchus berhasil membawa Vulcan ke Olympus.

Sesampainya di Olympus, Vulcan tersadar dari mabuknya. Ketika dilihatnya Juno menderita karena ulahnya, dia merasa menyesal dan segera membebaskannya. Juno yang terharu oleh cinta dan bakti putra sulungnya memeluknya. Sejak saat itu ibu dan anak berdamai.

Jupiter begitu bersukacita melihat hal tersebut sehingga dia memerintahkan Venus untuk menjadi istri Vulcan. Begitulah yang terjadi, yang terburuk di antara para dewa menikahi dewi tercantik! Akan tetapi Venus yang tidak mencintai suaminya kemudian meninggalkannya untuk menikahi saudaranya, Mars.

Vulcanlah yang membuat perisai dan perlengkapan perang untuk Achilles yang sangat mengagumkan dalam Perang Troya atas permintaan Thetis. Vulcan memang sangat menyayangi Thetis yang telah merawatnya ketika bayi sampai dewasa. (hpk/doc)

to be continued….

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne

(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/hpk doc/Nov/07)

~ oleh hitamputihkita pada November 18, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: