Sejarah Nama-nama Planet

Bagaimana Planet-planet Mendapatkan Namanya?
London
NASA

Telah diberitakan bahwa para ilmuwan AS baru-baru ini menemukan sebuah objek angkasa yang bisa jadi merupakan planet ke sepuluh di tata surya kita. Mereka menyebutnya Sedna. Mengenai nama ini, pastilah banyak orang bertanya-tanya, bagaimanakah sebuah planet mendapatkan namanya?

Yang jelas, saat para astronom di Institut Teknologi California memberi nama Sedna, keputusan itu tidaklah diambil begitu saja.

Mereka menjulukinya Sedna, seperti nama Dewi Samudra bangsa Inuit, yang menurut beberapa versi ceritanya, adalah seorang dewi yang dilemparkan ke perairan kutub utara oleh ayahnya.

Dinginnya lingkungan tempat dewi itu berada dirasa sangat sesuai untuk menggambarkan betapa beku dan rendahnya suhu di permukaan benda angkasa yang mereka temukan. Para ilmuwan yakin, di sana suhu tidak akan pernah mencapai lebih dari minus 240 derajat Celcius karena jaraknya yang amat jauh dari Matahari –yakni sekitar 130 milyar kilometer atau 900 kali lebih jauh dari jarak Bumi-Matahari.

Meski dirasa cocok, namun tak urung tetap muncul perdebatan yang mempertanyakan apakah para ilmuwan memiliki hak untuk menentukan nama sebuah benda angkasa.

Dewa-dewi angkasa

Planet-planet di tata surya kita, serta banyak dari bulan-bulan mereka, menyandang nama dewa-dewi atau tokoh-tokoh dalam mitologi Roma dan Yunani.

Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet. Pada abad ke-6 SM, bangsa Yunani memberi nama Stilbon (cemerlang) untuk Planet Merkurius, Pyoroeis (berapi) untuk Mars, Phaethon (berkilau) untuk Jupiter, Phainon (Bersinar) untuk Saturnus. Khusus planet Venus memiliki dua nama yaitu Hesperos (bintang sore) dan Phosphoros (pembawa cahaya). Hal ini terjadi karena dahulu planet Venus yang muncul di pagi dan di sore hari dianggap sebagai dua objek yang berbeda.

Pada abad ke-4 SM, Aristoteles memperkenalkan nama-nama dewa dalam mitologi untuk planet-planet ini. Hermes menjadi nama untuk Merkurius, Ares untuk Mars, Zeus untuk Jupiter, Kronos untuk Saturnus dan Aphrodite untuk Venus.

Pada masa selanjutnya di mana kebudayaan Romawi menjadi lebih berjaya dibanding Yunani, semua nama planet dialihkan menjadi nama-nama dewa mereka. Kebetulan dewa-dewa dalam mitologi Yunani mempunyai padanan dalam mitologi Romawi sehingga planet-planet tersebut dinamai dengan nama yang kita kenal sekarang.

Venus, misalnya, dinamakan sesuai dengan nama dewi cinta bangsa Romawi karena dari Bumi ia terlihat sebagai planet yang amat indah. Sedangkan Mars mendapat nama dari dewa perang Romawi karena warna merahnya yang garang bagai darah.

Hingga masa sekarang, tradisi penamaan planet menggunakan nama dewa dalam mitologi Romawi masih berlanjut. Namun demikian ketika planet ke-7 ditemukan, planet ini diberi nama Uranus yang merupakan nama dewa Yunani. Dinamakan Uranus karena Uranus adalah ayah dari |Kronos (Saturnus). Mitologi Romawi sendiri tidak memiliki padanan untuk dewa Uranus. Planet ke-8 diberi nama Neptunus, dewa laut dalam mitologi Romawi.

Mengenai Sedna, Dr Mike Brown, pemimpin tim riset, mengatakan, “Kami tahu ia akan menjadi objek paling dingin dan paling jauh di tata surya kita. Akhirnya kami sepakat mencari nama tokoh dari mitologi bangsa-bangsa yang tinggal di kutub.”

Lebih jauh, Dr Brown juga menyatakan dirinya lebih suka menyebut Sedna sebagai planetoid, dan bukannya planet karena ukurannya dianggap terlalu kecil, yakni berdiameter hanya 1.700 kilometer.

Apakah nama itu baik atau buruk, para ilmuwan sepertinya tetap harus mendapat persetujuan dari International Astronomical Union, badan yang tugasnya antara lain memutuskan bagaimana sebuah planet akan disebut secara resmi.

Georgian Sidus
Brian Marsden, seorang astronom dan sekretaris badan penamaan benda angkasa IAU, menyatakan, pengumuman sebuah nama dengan keyakinan nama itu pasti diterima adalah suatu pelanggaran terhadap protokol. “Anggota komite bisa saja menolaknya karena nama tersebut tidak resmi,” katanya.

Penolakan terhadap sebuah nama oleh IAU bukan peristiwa yang belum pernah terjadi. Astronom abad 18, Herschel, pernah mencoba menamakan Uranus dengan “Georgian Sidus”, mengambil nama George III, santo pelindungnya. Ia tidak berhasil, dan planet tersebut akhirnya diberi nama Uranus, ayah Saturnus, atas usul Johann Bode pada tahun 1781.

Namun bila panel menerima sebuah nama, katakanlah Sedna, maka nama tersebut akan diumumkan Minor Planet Centre, untuk digunakan resmi. Tapi sebelum diresmikan, ia secara ilmiah akan tetap disebut 2003 VB12. Nama seri ini merupakan cara yang dipakai para astronom untuk menandai tahun, bulan dan tanggal benda langit itu ditemukan.

Berkaitan dengan prospek nama Sedna, Peter Bond dari Royal Astronomical Society yakin nama tersebut kemungkinan besar akan diterima. “Hanya ada beberapa nama dari mitologi kuno, dan Anda harus mencari sumber lain bila tidak setuju dengannya.” (BBC/wsn)

( Sumber : Berbagai Sumber )

About these ads

~ oleh hitamputihkita pada Oktober 17, 2007.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: